Friday, December 22, 2017

Ibu

Beberapa hari yang lalu gue menjelajahi Instagram, lebih tepatnya Instagram Stories orang-orang yang gue follow. Sebenernya gue udah lumayan jenuh sih untuk menjadi pengguna aktif media sosial. Aktif disini maksudnya aktif untuk mengunggah, kalau di Instagram update feeds dan juga Instagram Stories. Paling gue sering update feeds tuh kalo gue lagi jalan-jalan kali yaa. Gue seakan udah gak ngerti aja gitu gimana cara selfie yang bagus hahaha berhubung ini pipi makin egois pengen keliatan dibanding bagian wajah lainnya (ya ngerti lah maksudnya apa). 

Yaaa paling yang sering gue lakuin ya paling liatin Instagram Stories orang-orang terdekat gue, artis-artis tv series (I'm a binge watcher lol), dan para influencer yang kontennya lucu atau punya anak kecil yang lucu (yang gak tau kenapa kok lahirnya pada deketan, kan gue jadi sering terpapar informasi parenting gitu hahaha gapapa lah ya bekal sejak dini).

Nah, lalu di salah satu akun majalah, ada postingan tentang keuntungan jadi anak yang punya ibu working mom. It's a sensitive issue, I know. Mereka juga di awalnya bikin statement dulu di awal artikelnya kalau memang tidak ada yang lebih baik atau buruk diantara keduanya. And I definitely agree to that.

Mungkin gue mau mulai cerita dari pengalaman gue sendiri sebagai anak yang Ibunya kerja kantoran 8 jam sehari. Dalam cerita ini gue bakal menyebut panggilan buat Ibu gue, yaitu Mami. Nggak, gue gak manggil Ayah gue Papi. Nopeee, gue manggil Ayah gue tuh Abah. Yaa, kebetulan sinkronisasi bukan gaya hidup keluarga Bapak Burhan ya, saudara-saudara.

Sebagai anak sulung dari berdua saudara, sejak kecil gue sama rewelnya sama adik gue, yang umurnya beda 4 tahun, sampai.... kapan ya? Sekarang mungkin? Atau sekarang adik gue lebih gak rewel (apa ya lawan kata rewel?) dari gue, bisa jadi sih. Gue rewel banget dulu bilang "Mami gak usah kerja lagi aja, di rumah aja sama kakak adek" yaa semacam itu lah. Dulu sih karena gue ngerasa temen-temen gue Ibunya pada di rumah.

Yang gue gak ngerti dulu adalah, mungkin sebenernya Mami mau di rumah, mau kerja sembari di rumah, atau mau kerja yang fleksibel waktunya dibanding harus ke kantor dengan waktu 8 jam. All I know, kalau Ibu lain bisa di rumah kenapa sih Ibu gue sendiri harus kerja? Tapi satu hal dan lainnya mengharuskan Ibu gue untuk kerja, buat gue juga dan adik gue, dan yang pasti buat beliau juga. Kenapa buat beliau? I'm not talking about the money, actually. Lebih ke kesempatan dalam bekerja. Karena gue percaya sih, gak semua orang enjoy juga staying at home all day (diluar ngurusin anak dan keluarga ya). Orang memang akan lebih ngerasa 'hidup' kalau dia punya something to achieve, which some people find it by working, tapi ada juga yang merasa kalau tujuan hidupnya membuat keluarganya atau anak-anaknya sukses karena dia. Subjektif pokoknya.

Tapi makin gue bertambah umur, gue ngerti juga kenapa Ibu gue tuh harus bekerja. Selain alasan finansial, I see her as a competitive person. Sebagai orang yang kompetitif, beliau pasti ingin punya goal tercapai dalam hidupnya, khususnya dalam karier. Dan kalau itu membuat beliau merasa hidupnya lebih meaningful, kenapa ngga?

Kalau soal ngurusin gue sama adik gue, sebagai working mom, I believe she has done the best she could. Ibu gue kerja di bisnis franchise restoran, singkatnya beliau harus ngurusin dan mikirin anak-anak lainnya, dalam hal ini karyawan di kantornya, bukan cuma anak dari rahimnya. Jadi sudah sewajarnya kalau waktu yang Ibu gue punya itu berkurang porsinya untuk gue dan adik gue. 

Lalu, apa yang terjadi dengan porsi waktu Ibu gue yang berkurang buat gue dan adik gue?

Ada beberapa hal yang gue rasakan, tentunya ada enak dan ga enaknya. Tapi salah satu hal yang paling gue rasakan manfaatnya adalah gue lebih bisa belajar untuk mandiri. Gue bilangnya gue bisa belajar untuk mandiri karena, gue sendiri gak tau sih kadar kemandirian seseorang tuh apa. Ada yang anaknya udah cukup bisa tidur di kosan beda kota sama orang tuanya udah dibilang mandiri. Ada yang anaknya bisa mulai cari uang sendiri berarti mandiri. Yang penting arti general dari mandiri sendiri berarti tidak tergantung pada orang lain.

Contoh kecilnya gimana gue belajar mandiri dari kegiatan rumah aja. Dulu waktu gue dan adik gue kecil, di rumah selalu ada Asisten Rumah Tangga (ART) yang bantuin Ibu di rumah khususnya buat jagain gue sama adik gue karena masih terlalu kecil kalau di rumah cuma berdua. Waktu gue SD gitu, Ibu gue pasti nyari ART yang bisa nginep di rumah tapi lama kelamaan susah juga nyarinya yang mau tinggal bareng. Biasanya kalau yang belum berkeluarga mau aja, tapi makin kesini kayanya orang gak terlalu berminat untuk jadi ART. Kenapa ya kira-kira? Lalu karena gue sama adik gue semakin besar, gue sama dia udah bisa ditinggal di rumah sendiri atau berdua aja, ART terakhir di rumah cuma bantu Ibu gue buat rapihin rumah aja. Tapi karena satu dan lain hal, sejak beberapa tahun lalu di rumah udah gak ada ART lagi. Alesan utamanya, susah cuy nyarinya sekarang.

Dengan kedua orang tua yang bekerja, ditambah lagi larangan dari kedua orang tua gue untuk terlalu mengandalkan bantuan ART, gue jadinya terlatih dan tertuntut untuk banyak melakukan hal sendiri. Lebihnya adik gue sekarang sih. Kalau gue paling dulu waktu jaman sekolah cuma sebatas masak sarapan atau bekel buat ke sekolah sendiri, karena untuk nyuci dan nyertika baju seragam, gue masih dibantu sama ART. Tapi sekarang adik gue untuk urusan sekolah gitu nyiapin bekel sendiri dan nyetrika baju sendiri. Such an applause. Dan untungnya orang tua gue tidak membeda-bedakan perempuan dan laki-laki dalam mengerjakan urusan rumah. Istilahnya, selama sama-sama hidup dalam satu rumah yang sama, urusan rumah ya tanggung jawab bersama. 

Oh iya, bukan artinya kalau Ibunya di rumah, berarti anaknya gak bisa apa-apa juga. Banyak kok temen gue yang Ibunya di rumah dikasih aturan untuk ngurusin pekerjaan rumah sendiri juga, misalnya habis makan langsung cuci sendiri untuk bantu pekerjaan Ibunya. Dan sebenarnya ada keuntungan lebih buat mereka karena bisa belajar langsung untuk ngerjain kegiatan rumah. Jangan salah, kerjaan di rumah tuh susah loh. Bikin piring bersih keset bersinar aja tuh gak segampang yang dikasih liat iklan sabun di tv hahaha

Bedanya, mungkin kalau gue dan adik gue melakukan pekerjaan rumah sendiri saat orang tua kita kerja, kita seringnya belajar dari apa yang kita alami. Ibaratnya kalau Ibu lo ngajarin lo masak di rumah, lo bisa diingetin "Nak, hati-hati pegang pancinya ya masih panas." Kalau Ibu gue lagi kerja nih misalnya, terus gue laper, gue coba masak sendiri, gue lupa nih kalau abis masak panci bisa panas, gue nyentuh pancinya terus tangan gue melepuh. Dari situ gue belajar buat gak ngelakuin hal yang sama lagi. Dan dua-duanya tidak mengurangi esensi dalam hal lo belajar gitu.

Gue agak lelah sebenarnya dengan kebiasaan orang-orang yang selalu mengkotak-kotakan Ibu yang baik itu seperti apa. Semua Ibu pasti punya caranya masing-masing untuk jadi yang paling baik. Kalaupun gue nantinya bakal jadi seorang Ibu yang tinggal di rumah, atau bekerja dari rumah, banyak cara didikan orang tua gue (khususnya dalam bahasan ini adalah Ibu) yang akan gue terapkan saat gue jadi Ibu. Gue percaya sih kalau setiap Ibu juga masih ada proses belajarnya untuk menjadi baik pada versinya. We're always learning, kalau ngga, emangnya masih bisa ya disebut manusia?

Kebetulan juga, selamat hari Ibu!
Harapan gue, semoga semakin banyak Ibu yang mendidik anaknya menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Aamiin.





Wednesday, December 20, 2017

Human

Since I was a kid, I’m not kind of an easy child. I assumed my relatives known me as a shy, moody, and… temperamental, I guess? Cranky is my middle name. I was and still am very sensitive. Cry and scream were (and sometimes still are) my things. I barely could handle my emotion when pressure came. Because of that, I tend to be quiet. I tend to avoid conversation because I’m afraid. I’m afraid they think I’m strange, I’m different. I’m afraid they think I’m a monster when I couldn’t handle my emotion. Because I knew some people (mostly elders) couldn’t resist to stare at me like, “what is happening with her?” since I was a kid. I felt it painful.  

I used to blame myself, “Why am I being like this? Why couldn’t you be like anyone else? Anyone else, who is always be okay when it is not?”

Ironic thing is, I never wanted to be like this. I wish I could have higher stress resistance. I wish I wouldn’t cry when I panicked. Sometimes, I wish I’m not as sensitive as I am. I know being such a sensitive person could help you more sympathy or even empathy with others, but when it came to yourself, it such a curse when you can’t handle it.

I found myself changed, the little more I can handle myself than when I was a kid. No, it’s not gone. I just hid it somewhere. Somewhere a little bit far so I can ‘live’ my life for a while. But yeah, it chases me anyway. When I can’t hold the pressures, there are things that would be happen to me. It’s either I’m being extremely quiet or loud, which means the monster I mentioned earlier came. You don’t want to know how the monster is. Maybe that is why I keep my circle small. I need people who may understand who I am. It's not like I don't need anybody else. It's me, who keep myself from overwhelm. 

I know I’m not alone. Even if I don’t really know what problem I’m actually having, I know so many people are struggling on their own problem THAT you may have no idea what it is. What I want to tell you guys from this writing is, people are different, yet we have same thing; we are human and not perfect.


I don’t try to educate you from this writing, I just want share something that maybe some people feel the same way and some others don’t know that it is happening to some people. It's not easy though to write kind of this thing. But, thanks, anyway! 

Sunday, August 21, 2016

Hello

No posts, yet.

Come back soon!